Jumat, 30 Desember 2011

BUKU KERJA PEMENTASAN DRAMA/TEATER "MALAM TERAKHIR" KARYA YUKIO MISMIHA

PEMENTASAN DRAMA
MALAM TERAKHIR (SOTOBA KOMACHI)
KARYA YUKIO MISHIMA
DITERJAMAHKAN OLEH
TOTO SUDARTO BACHTIA


BUKU KERJA KELAS V.B

SUTRADARA
DWI RAHMADIAH



JURUSAN                             : PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
PROGRAM STUDI                         : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA



FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
PALEMBANG
2011




PENGANTAR PENTAS

Pementasan drama atau teater “Malam Terakhir” karya Yukio Mishima yang diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar ini akan dipentaskan oleh mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia kelas V.B ini untuk memenuhi tugas dan sebagai penambah wawasan keterampilan serta keberanian kami sebagai mahasiswa untuk tampil di khalayak banyak sekaligus memberikan pembekalan bagi kami sebagai calon guru Bahasa dan sastra Indonesia.
Adapun alasan kami memilih naskah drama “Malam Terakhir” ini dikarenakan naskah drama ini sangat cocok dan sesuai untuk kami pentaskan. Naskah ini menceritakan tentang seorang perempuan tua yang masih terlihat cantik walaupun sudah berusia Sembilan puluh Sembilan tahun. Tetapi siapa pun yang memuji perempuan tua itu pasti mati.
Pementasan drama ini sangat memerlukan karakter yang kuat, karenanya para actor maupun para aktris harus mampu memahami isi dari naskah drama tersebut.
Akhir kata, kita sebagai hamba Allah yang lemah sangat mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dari semua kalangan mahasiswa, dosen, maupun masyarakat, supaya pementasan drama ini berjalan sesuai dengan rencana.

PENGGARAPAN PENTAS DRAMA

Didokumentasikan dengan menggunakan kamera digital dan handycam.
Ranghkaian dokumentasi dan untuk pengambilan foto para pemain yaitu :
1.      Pembukaan
2.      Pergantian para pemain
3.      Kreasi para pemain
4.      Penutup. 










SINOPSIS NASKAH DRAMA
MALAM TERAKHIR

Malam terakhir adalah naskah drama yang menceritakan seorang penyair dan perempuan tua yang memperbincangkan sesuatu yang seakan-akan kutukan. Perempuan tua yang berumur Sembilan puluh Sembilan tahun dulunya adalah seorang wanita cantik yang selalu dipuja oleh setiap pria. Tetapi anehnya setiap pria yang memuja atau memuji kecantikannya akan berakhir dengan kematian. Komachi adalah nama panggilaan perempuan itu. Salah satu lelaki yang pernah menyukai komachi adalah Kapten Fukaksa salah satu pengawal kaisar. Setelah mendengar cerita dari perempuan tua, penyair tidak menghiraukan cerita tersebut dan malah secara terang-terangan mengatakan bahwa perempuan tua itu masih terlihat cantik walau sudah berusia Sembilan puluh Sembilan. Perempuan tua sudah mengingatkan penyair itu, tetapi apa yang terjadi. Mau tau apa yang akan terjadi pada terjadi pada penyair itu? Dapat anda ketahui pada naskah drama Malam Terakhir karya Yukio Mishima di bawah ini.













NASKAH DRAMA MALAM TERAKHIR
Para Pelaku :
PEREMPUAN TUA
PENYAIR
Perempuan Pertama
Perempuan Kedua
Perempuan Ketiga
Perempuan Keempat
Agen Polisi
Beberapa Penari


PEREMPUAN TUA : Satu ditambah satu, dua, dua ditambah dua lagi, empat… (Dia memegang sebuah puntung rokok di bawah cahaya lampu, danketika dilihatnya rokok itu masih cukup panjang, dia kemudian pergi menuju pasangan kekasih di sebelah kirinya untuk meminta api. Sesudah itu dia duduk lagi dan mengisap rokoknya. Setelah beberapa isap dia memadamkan lagi sigaretnya, dan melemparkannya ke samping puntung-puntung rokok lainnya di atas sehelai kertas Koran. Kemudian dia mulai menghitung lagi) Satu ditambah satu, dua; dua ditambah dua, empat…

PENYAIR : (Pergi berdiri di belakang perempuan tua itu dan memperhatikan apa yang sedang dilkukannya)

PEREMPUAN TUA : Kau mau merokok ? Silakan.

PENYAIR  : Terima kasih.

PEREMPUAN TUA : Masih ada keperluan lainnya ? Mungkin ada yang ingin kau sampaikan

PENYAIR : Tidak. Tidak begitu penting soalnya.
PEREMPUAN TUA : Aku tahu kau siapa. Kau seorang penyair. Itulah keahlianmu.
PENYAIR : Rupanya kau tahu siapa aku. Ya, sekali-sekali aku menulis sajak. Tentu. Tetapi itu bukan bisnis, bukan perusahaan.

PEREMPUAN TUA : Begitu pendaptmu? Pasti karena kau tidak bisa menjual sajak-sajakmu, bukan? Kau masih muda, bukan? Tetapi kau tidak akan lama lagi hidup. Tampak malaikat maut sudah tercoreng di atas keningmu.

PENYAIR : Apa pekerjaanmu di masa yang lalu? Peramal? Dapatkah kau meramal melalui garis tangan, melalui kerut-kerut pada muka?

PEREMPUAN TUA : Mungkin… Aku melihat begitu banyak manusia dalam hidupku, sehingga muka mereka itu tidak bicara apa-apa lagi kepadaku… Duduklah! Aku kira kau sudah tidak begitu tetap lagi berdiri.

PENYAIR : Ini disebabkan karena aku baru saja minum-minum.

PEREMPUAN TUA : Eh… Selagi kau masih hidup kau harus berdiri dengan kedua kakimu di atas tanah.

PENYAIR : Dengarlah, ada sesuatu yang sangat ingin kuketahui selama ini, sehingga terpaksa aku harus menanyakannya padamu. Mengapa kau tiap malam datang ke mari pada waktu yang sama dan mengusir semua pasangan itu dari bangku mereka?

PEREMPUAN TUA : Aku tak pernah mengusir orang. Mereka dengan sendirinya pergi menjauh kalau aku duduk di sini. Lihat saja, bangku ini bisa diduduki oleh empat orang.

PENYAIR : Tetapi bangku itu tidak bisa menyampaikan kejengkelannya. Karena akulah yang harus menyampaikannya untuk dia.

PEREMPUAN TUA : Bangku itu bukan milikmu sendiri, bukan? Mau apa kau sebenrnya? Apakah kau seorang pengembara? Apakah kau harus meminta sedekah kepada orang-orang yang duduk di sini?

PENYAIR : Tidak. Malam hari bangku-bangku ini untuk orang-orang yang sedang berpacaran. Ketika aku mau duduk untuk mengumpulkan gagasan-gagasanku, tetapi aku tidak melakukannya. Karena rasa hormatku kepada… Tetapi kau langsung saja duduk.

PEREMPUAN TUA : Ah, sekarang baru aku mengerti maksudmu! Tempat ini agaknya merupakan padang perburuanmu. Engkau datang ke mari untuk keperluan perusahaanmu.

PENYAIR : Perusahaanku? Apa maksudmu sebenarnya?
PEREMPUAN TUA : Yah, maksudku, kau di sini mengumpulkan kesan-kesan, impresi-impresi yang kemudian kau olah menjadi sajak-sajak.

PENYAIR : Jangan beromong-kosong! Orang-orang yang berpacaran, lentera-lentera… apakah kau betul-betul mengira aku menulis tentang soal-soal konyol itu?

PEREMPUAN TUA : Kalau waktunya sudah cukup lama berlalu, maka soa-soal itu tidak akan konyol lagi. Cobalah sebutkan padaku satu soal yang pada waktunya tidak bersifat konyol.

PENYAIR : Kau punya gagasan-gagasan yang betul-betul menarik! Kau hampir-hampir berhasil memaksaku untuk mengajukan suatu pembelaan bagi bangku ini.

PEREMPUAN TUA : Ya Tuhan, kau betul-betul menjemukan! Kau Cuma mau berkata bahwa aku terlalu hina untuk bangku ini. Atau bukan begitu barangkali?

PENYAIR : Terlalu hina? Kau seorang yang murtad!

PEREMPUAN TUA : Jalan fikiran remaja masa kini betul-betul bagus! Aku terpaksa harus mengatakannya.

PENYAIR : Wahai, Ibu, masih ada sesuatu yang ingin kutanyakan… Siapa namamu sebenarnya?

PEREMPUAN TUA : Mereka dulu memanggilku Komachi.

PENYAIR : Siapa yang memanggilmu begitu?

PEREMPUAN TUA : Semua laki-laki yang pernah memuja kecantikanku telah meninggal. Dan sekarang kau punya peraaan kepadaku yang sudah berumur sembilan puluh sembilan tahun.

PENYAIR : Kalau begitu aku beruntung. Aku baru berjumpa denganmu setelah kau berumur sembilan puluh sembilan tahun!

PEREMPUAN TUA : Benar, kau beruntung… Tetapi hanya seorang gila seperti kau mungkin menyangka bahwa setiap perempuan cantik jadi jelek dengan berlalunya tahun. Dan sampai sekarang aku masih selalu memandang diriku sebagai seorang perempuan cantik yang mempesona.

PENYAIR : Memang kecantikan adalah suatu beban berat. Sudah barang tentu dahulu kau pernah cantik…

PEREMPUAN TUA : Apa katamu? Baik dulu maupun sekarang aku masih tetap cantik!

PENYAIR : Ya, tentu saja, aku mengerti. Mengapa kau tidak mau bercerita tentang masa remajamu kepadaku.  Ceritakanlah, apa yang telah terjadi delapan puluh tahun yang lalu.

PEREMPUAN TUA : Delapan puluh tahun yang lalu aku baru berumur sembilan belas tahun. Kapten Fukaksa dari pasukan pengawal Kaisar. Sangat terpsona kepadaku.

PENYAIR : Bagaimana kalau aku berbuat seolah-olah aku kapten itu – siapa namanya tadi?

PEREMPUAN TUA : Jangan berangan-angan! Dia seratus kali lebih tampan dan lebih gagah daripada kau…

PENYAIR : Maksudmu kapten itu?

PEREMPUAN TUA : Tentu saja! Bagaimana kalau kita berdansa.

PENYAIR : Aku berdansa denganmu?

PEREMPUAN TUA : Jangan lupa kau Kapten Fukaksa sekarang.

PEREMPUAN PERTAMA : Komachi! Kau kelihatan sangat cantik lagi malam ini!

PEREMPUAN KEDUA : Kau membuatku iri. Dari mana kau peroleh pakaianmu yang indah itu?

PEREMPUAN TUA : Tentu saja dari Paris! Aku telah mengirimkan ukuran-ukuran tubuhku kepada para perancang terkenal di sana dan menyuruh mereka membuat pakaian ini untukku.

PEREMPUAN PEREMPUAN : Benar begitu?

PEREMPUAN PERTAMA : Ya, kalau tidak begitu tidak mungkin. Apa yang mereka buat di Jepang sini selalu begitu kampungan.

PEREMPUAN KEEMPAT : Tidak sangsi lagi. Mengapa harus kau pusingkan? Kau mau tidak mau harus mendatangkan pakaianmu dari luar negeri.

PEREMPUAN KETIGA : Tepat. Danitu juga berlaku buat kami. Adakah kalian melihat rok yang di pakai Perdana Menteri semalam? London. Kota ini masih tetap merupakan kiblat buat pakaian laki-laki.

PEREMPUAN KEDUA : Komachi betul-betul mempesona!

PEREMPUAN PERTAMA : Memang, dalam sinar bulan seperti sekarang ini seorang tukang tenung pun akan kelihatan cantik!

PEREMPUAN KEEMPAT : Ya, tetapi dalam sinar matahari yang terang benderang sekalipun Komachi akan kelihatan cantik, dan dalam sinar bulan jadinya dia kelihatan betul-betul seperti bidadari, dan…

PEREMPUAN KETIGA : Dan kalian akan kehilangan kata-kata kalian.

PEREMPUAN KEDUA : Ya, dan dia pandai pula menjauhkan para pria dari dirinya! Dan karenanya mereka banyak pula bergunjing tentang dia…

PEREMPUAN KEEMPAT : Dia betul-betul seorang ‘dara’ maksudku dia masih perawan. Ini sungguh-sungguh apa yang biasa kaunamakan suatu gosip.

PEREMPUAN KETIGA : Kapten Fukaksa sangat tergila-gila kepadanya. Adakah kalian melihat betapa pucat dan kurusnya dia? Seolah-olah dia tidak pernah makan apa-apa.

PEREMPUAN KEDUA : Sehari-harian dia tidak berbuat lain kecuali menulis sajak-sajak untuk Komachi, dan tugas-tugasnya sebagai perwira sama sekali dilalaikan. Justeru suatu hal yang aneh bahwa, para perwira pengawal lainnya masih mau bergaul dengan dia!

PEREMPUAN KEEMPAT : Apakah salah satu dari kita masih mungkin mendapat kesempatan menurut pendapatmu?
PEREMPUAN KETIGA : Haha! Yang kucapai tidak mungkin lebih jauh dari suatu mimpi, aku cuma bisa berharap.

PEREMPUAN KEDUA : Tidak, mengenai hal itu aku tidak punya pengharapan lebih besar daripada sebuah khayalan.

PEREMPUAN KEEMPAT : Ya, aku akan lebih cepat sampai di dalam kaleng atau jarring, daripada di tempat tidurnya… Dan begitu pula keadaannya dengan aku. Ah! Yang paling menjengkelkan dari ikat pinggang Eropah dia selalu menjadi terlalu sempit setelah makan.

PEREMPUAN TUA : Aku mendengar bunyi gemercik air di suatu tempat, tetapi aku tidak melihat apa-apa. Aneh rasanya seperti sedang hujan nun di kejauhan.

PEREMPUAN KEEMPAT : Suaranya merdu sekali! Begitu jernih laksana gemercik mata air.

 PEREMPUAN PERTAMA : Kalau mendengar dia berbicara kedengarannya seperti sedang membacakan sajak-sajak.

PEREMPUAN TUA : Mereka sekarang sedang berdansa! Bayang-bayang mereka berlintasan sepanjang kaca-kaca jendela dan malam menjadi terang dan gelap. Bagaikan api yang sedang meruak dan padam.

PEREMPUAN KETIGA : Tidakkah kau sependapat bahwa suaranya mengandung gairah? Suara yang menghujam dalam ke dalam hatimu?

PEREMPUAN KEDUA  : Aku seorang perempuan, tetapi aku menggigil kedinginan kalau aku mendengar suaranya.

PEREMPUAN TUA : Wahai! Kau dengar lonceng-lonceng itu? Kau dengar roda-roda itu, derap kuku-kuku kuda itu? … kereta siapakah gerangan? Aku masih belum melihat orang dari kalangan istana. Lonceng itu kedengarannya seperti lonceng kereta Kaisar. Amboi, alangkah pengapnya di sini, bau itu…

PEREMPUAN KEDUA : Komachi membuat semua perempuan lain di sekitar dirinya menjadi pucat.

PEREMPUAN PERTAMA : Tetapi itu keji sekali. dia tak tanggung-tanggung mencuri tas tanganku!

PENYAIR : Semua betul-betul ajaib…

PEREMPUAN TUA : Apanya yang ajaib.

PENYAIR : Entahlah … Aku …

PEREMPUAN TUA : Jangan kau katakana! Jangan kau coba mencari kata-kata! Aku tahu apa yang mau kaukatakan…

PENYAIR : Kau.. kau begitu…

PEREMPUAN TUA : Begitu… cantik! Bukankah itu yang mau kaukatakan? Jangan kau katakana! Barangsiapa mengatakannya umurnya tidak akan panjang lagi. Aku peringatkan!

PENYAIR : Tetapi…

PEREMPUAN TUA : Kalau kau masih sayang kepada hidupmu… diamlah!

PENYAIR : Tidak. Ini betul-betul terlalu aneh! Kita tidak bisa memberi nama lain kecuali keajaiban!

PEREMPUAN TUA : Betul begitu? Apakah yang semacam itu sekarang disebut keajaiban? Padahal itu merupakan suatu yang paling biasa di dunia.

PENYAIR : Tetapi kerut-kerut itu…

PEREMPUAN TUA : Apa? Adakah kerut-kerut pada mukaku?

PENYAIR : Tetapi memang itu yang mau kukatakan barusan! Sekarang aku tidak melihat kerut-kerut lagi pada mukamu.

PEREMPUAN TUA : Tentu saja tidak! Mana mungkin pula seorang laki-laki selama sertus malam bisa memuja tukang tenung yang keriput? Jangan lagi kita bicara tentang hal itu. Apa yang sedang kau fikirkan?

PENYAIR : Tidak ada. Tetapi mungkin juga ada. Aku punya firasat yang aneh barusan. Firasatku berkata, seolah-olah kita berdua sekarang harus berpisah, untuk kemudian kita baru bertemu lagi setelah seratus tahun yang akan datang, mungkin sedikit kurang dari satu abad.

PEREMPUAN TUA : Kalau begitu kita harus bertemu lagi di mana? Di kuburan barangkali? Atau di neraka? Aku kira itulah yang paling masuk akal.

PENYAIR : Tunggu! Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul dibenakku!... Sebentar! Rasanya tempatnya ama seperti di sini. Aku akan melihatmu kembali di tempat yang sama seperti ini. Kata-kata apa yang akan kita ucapkan, kalau kita bertemu lagi seratus tahun yang akan datang?

PEREMPUAN TUA : Menurut pemikiranku, kira-kira seperti : Sayang sekali kita tak pernah saling berhubungan!

PENYAIR :Apakah kau benar-benar akan menepati janjimu?

PEREMPUAN TUA : Janjiku?
PENYAIR : Ya, janji malam kesertus itu.

PEREMPUAN TUA : Apakah kau meragukannya? Setelah segala apa yang pernah kukatakan paamu

PENYAIR : Ya, malam ini keinginanku pasti akan terpenuhi. NAmun alangkah anehnya peraaan ini. Begitu menawarkan hati. Seolah-olah di tanganmu kau tiba-tiba memunyai sesuatu, yang sudah lama, sudah lama sekali kau inginkan.

PEREMPUAN TUA :Aku kira, untuk seorang laki-laki perasaan semacam itu mengerikan mestinya.

PENYAIR : Tolonglah aku. Menurutmu, apa yang harus kulakukan?

PEREMPUAN TUA : Pergilah! Itulah satu-satunya yang bisa kaulakukan.

PENYAIR  : Tidak, aku tak mau pergi.

PEREMPUAN TUA : Rupanya engkau terlalu banyak minum!

PENYAIR : Kau tidak percaya? Malam ini juga, beberapa menit lagi sesuatu yang mustahil akan terjadi.

PEREMPUAN TUA : Hal-hal yang mustahil tidak akan terjadi!

PENYAIR : Aneh… Mukamu…

PEREMPUAN TUA : Apanya yang aneh? Ada apa dengan mukaku?

PENYAIR : Kemana kerut-kerut itu?
PEREMPUAN TUA : Kerut-kerut apa? Kerut-kerut itu masih ada dimukaku! Lihatlah! Pakaian compang-camping! Baunya busuk!

PENYAIR : Bau wangi semerbak dari tubuhmu!

PEREMPUAN TUA : Dan ini, lihat tubuhku yang sudah tua dan renta.

PENYAIR : Alangkah nikmatnya tubuhmu!

PEREMPUAN TUA : Sadarlah umurku sembilan puluh sembilan tahun! Bangunlah! Buka matamu! Perhatikan aku baik-baik!

PENYAIR : Akhirnya! Akhirnya aku teringat…

PEREMPUAN TUA : Kau ingat?

PENYAIR : Ya,… begitulah. Engkau dulu seorang perempuan tua berumur sembilan puluh sembilan tahun! Kepalamu penuh kerut-kerut. Matamu berair dan pakaianmu bau busuk.

PEREMPUAN TUA : Dulu? Tidakkah kau lihat, bahwa aku masih tetap betina tua?

PENYAIR : Aneh! … Matamu sejuk dan jernih bagaikan mata gadis dua puluh tahun dan bau wangi yang mempesona terpancar dari pakaianmu. Engkau menjadi muda lagi!

PEREMPUAN TUA : Jangan katakana! Bukankah ku telah memperingatkanmu? Tidak tahukah kau apa yang akan terjadi kalau kau mengatakan aku cantik?

PENYAIR : Kalau aku berpendapat bahwa sesuatu cantik, maka aku harus mengatakannya, sekalipun aku harus mati karenanya.

PEREMPUAN TUA : Gila! Demi Tuhan, janganlah kau berkata lagi! Aku mohon! Katakan saja yang lainnya!

PENYAIR : Baiklah! Aku akan mengatakannya.

PEREMPUAN TUA : Jangan, jangan, jangan kau lakukan hal itu!

PENYAIR : Saatnya telah tiba! Saat yang sudah kutunggu selama sembilan puluh sembilan malam, sembilan puluh sembilan tahun yang berkepanjangan.

PEREMPUAN TUA : Matamu menyala-nyala! Jangan kau lakukan! Janganlah kau mengatakan. Aku mohon!

PENYAIR : Aku harus mengataknnya padamu, Komachi! Engkau cantik! Engkau perempuan paling cantik di dunia. Dan kecantikanmu tidak akan memudar, sekalipun sudah seribu tahun.

PEREMPUAN TUA : Jangan katakan! Jangan katakan! Engkau pasti akan menyeal!

PENYAIR : Aku tidak akan menyesal!

PEREMPUAN TUA : Kau gila! Aku melihat tanda kematian telah tercoreng di atas keningmu.

PENYAIR : Aku tidak mau mati!

PEREMPUAN TUA : Aku telah melakukan segala apa yang aku bisa untuk melindungimu.

PENYAIR : Kedua tangan dan kakiku telah menjadi dingin… Aku tahu pasti, seratus tahun lagi kita akan bertemu kembali di sini, di tempat yang sama.

PEREMPUAN TUA : Lagi-lagi menunggu seratus tahun!
AGEN POLISI : Bedebah…dasar pemabuk! Ayo bangun! Di rumah binimu sedang menunggu. Lekas pulang sehingga dia bisa membaringkanmu di atas sarangnya… Hai, Mak tua… adakah kau melihatnya jatuh?

PEREMPUAN TUA : Dia terjatuh beberapa waktu yang lalu.

AGEN POLISI : Dia masih hangat.

PEREMPUAN TUA : Itu berarti dia baru saja meninggal.

AGEN POLISI : Ya, aku memang pintar sekali! Aku bertanya kepadamu apakah kau melihatnya ketika dia jatuh. Jam berapa ketika kau datang ke mari?

PEREMPUAN TUA : Kira-kira setengah jam yang lalu. Dia sudah mabuk dan mulai gatal tangannya.

AGEN POLISI : Gatal tangannya? Terhadapmu? Jangan melucu!

PEREMPUAN TUA : Apakah itu begitu aneh! Itu Seuatu yang sangat wajar!

AGEN POLISI : Oh, kuharap saja kau mampu melindungi dirimu!

PEREMPUAN TUA : Ah, aku tidak apa-apa. Dia Cuma agak menggangu. Untuk beberapa saat dia merengek-rengek padaku, dan sesudah itu dia tiba-tiba jatuh, terjerembab. Aku kira dia telah jatuh tertidur.

AGEN POLISI : Hai! Kalian di sana! Tidak tahukah kalian bahwa di taman ini kalian tidak boleh tidur? Di sini bukan tempat penampungan orang-orang tak berumah! Ke sini! Aku perlu beberapa laki-laki untuk membantuku. (DUA ORANG itu mengangkat PENYAIR dan menggotongnya pergi dari situ)
PEREMPUAN TUA (Membungkuk lagi di atas puntung-puntung rokoknya dan dengan seksama memilih-milih puntung-puntung rokok itu)
Satu ditambah satu, dua… dua ditambah dua, empat. Satu ditambah satu, dua dan dua ditambah dua, empat….



KONSEP PEMENTASAN DRAMA/TEATER
MALAM TERAKHIR KARYA YUKIO MISHIMA
KELAS 5B

Babak
Adegan
Lakon
Tokoh
Setting
Kostum
Make-Up
Musik
Ket
I
1
Di panggung terdapat dua orang yaitu perempuan tua dan penyair di taman, mereka berbincang-bincang tentang kehidupan si perempuan tua yang sudah berumur sembilan puluh sembilan tahun dan mereka berbuat seolah-olah mereka kembali kemasa muda si perempuan tua tersebut.

Lampu padam
-   Perempuan tua
-   Penyair
Di sebuah taman, dengan kursi dan beberapa pasang muda-mudi yang berpacaran.
-   Perempuan tua :
Kimono warna cerah,obi,  konde, bakiak
-   Penyair :
-Perempuan Tua
1. Rambut disanggul

2. Make up berwajah tua
Mengikuti
Alur, 


Mellow

II
1
Muncul beberapa penari ke panggung seolah-olah mereka adalah orang-orang yang berkumpul di istana untuk berdansa. Perempuan tua dan penyair ikud berdansa bersama para penari tersebut.
-   Perempuan tua
-   Penyair
-   Penari 1
-   Penari 2
-   Penari 3
-   Penari 4
-   Penari 5
-   Penari 6
Di sebuah taman, tapi dibuat seolah-olah itu taman sebuah istana.

-Penyair

1.Alis dipertebal
2. dagu menggunakan pensil alis



2
Muncul beberapa perempuan yang membicarakan Komachi (perempuan tua), mereka bergunjing tentang Komachi dan Kapten Fukaksa yang menyukai Komachi.

Lampu Padam
-   Perempuan tua / Komachi
-   Perempuan pertama
-   Perempuan kedua
-   Perempuan ketiga
-   Perempuan keempat
Di sebuah taman di istana

-Perempuan pertama
1. Rambut disanggul
2. mata menggunakan eye liner


III
1
Perempuan tua dan penyair berada di panggung lagi, penyair dibuat heran dan takjub dengan kecantikan Komachi (perempuan tua) padahal yang dilihatnya masih nenek tua yang seperti awal dia bertemu. Akan tetapi mata si penyair sudah dibutakan oleh masa lalu si perempuan tua hingga ia menyebutkan kata terlarang yakni “cantik” kepada si perempuan tua hingga akhirnya si penyair mati karena kata-katanya sendiri. Kemudian muncul agen polisi yang melihat mayat penyair. Dan meminta bantuan beberapa pengemis disana untuk mengangkat mayat si penyair.

“Selesai”
-   Perempuan tua
-   Penyair
-   Beberapa pengemis
-   Agen polisi


-Perempuan kedua
 1. Rambut disanggul

2. Bedak, bibir menggunakan lipstick merah

-Perempuan ketiga
1. alis di pertebal menggunakan pensil
2. lipstick merah

-Perempuan keempat
1. Rambut diikat dua kedepan
2. Dempul kuning langsat

-Polisi
1. Wajah menggunakan dempul dan bedak.
2. Membuat kumis dengan menggunaakan pensil alis.






SUSUNAN MANAJEMEN PEMENTASAN DRAMA
MALAM TERAKHIR KARYA YUKIO MISHIMA
KELAS VB

Produser                    : Univ. PGRI Palembang
Sutradara                   : Dwi Rahmadiah
Pimpinan Produksi   : Tri Rusyandi

A.    Manajemen produksi
1.      Pimpinan Produksi                        : Tri Rusyandi

2.      Sekretaris                                      : Yuli Purnamasari

3.      Bendahara                                     : Arminiati

4.      Dokumentasi                                 : Rella Sofita

·         Ayu Aria Weni

5.      Humas                                           : Wiwin Sunarti
·         Rosmiati
·         Dempi Purnamasari

6.      Konsumsi                                      : Ice Trisnawati
·         Wika Puri Astuti
·         Rika Apriyanti
·         Nopriansyah
·         Marissa

7.      Perlengkapan                                 : Affandy Higrus
·         Efreni
·         Antika Narasanti


B.     Manajemen Artistik

1.      Sutradara                                                   : Dwi Rahmadiah
Asisten Sutradara                                      : Fitrianto

2.      Pimpinan Artistik                                      : Elya Sumarni

3.      Make up                                                    : Hulfiati
·         Wiwin Sunarti
·         Pipit Sulastri
·         Wiwin Sunarti
·         Christina Handayani
·         Arminiati

4.      Penata Kostum                                          : Rike Asriyanti
·         Leni Kurnia Miselina
·         Winda Novika Sari
·         Novia Astuti

5.      Penata lampu                                             : Agung Dwi Pratama

6.      Dekorasi Panggung                                   : Syafana apriyani
·         Indah Purnamasari
·         Sulistina
·         Yuni Pangaribuan

7.      Penata Musik :                                          Affandy Higrus
·         Diya Kencana P.
·         Fennu Resti Amanda




8.      Aktor/Aktris                      :
Perempuan Tua           : Yuli Purnamasari
Penyair                        : Fitrianto
Perempuan 1               : Rike Asriyanti
Perempuan 2               : Hulfiati
Perempuan 3               : Leni Kurnia Miselina
Perempuan 4               : Rosmiati
Agen Polisi                  : Agung Dwin Pratama
Penari                          :
1.      Wiwin Sunarti
2.      Christina Handayani
3.      Arminiati
4.      Fenny Resti Amanda
5.      Ayu Aria Weni
6.      Elya Sumarni
7.      Syafana Apriyani


JADWAL LATIHAN DRAMA KELAS 5.B
“Malam Terakhir” Karya Yukio Mishima

Hari/Tanggal
Materi/Kegiatan
Waktu
Ket
Sabtu, 19 November 2011
Pembahasan umum
10.00 WIB

Jumat, 25 November 2011
Pemilihan aktor
13.00 WIB

Selasa, 29 November 2011
Latihan dasar, dramatic reading
13.00 WIB

Kamis, 1 Desember 2011
Latihan dasar, dramatic reading
08.00 WIB

Sabtu, 3 Desember 2011
Olah tubuh, olah vokal, dramatic reading
10.00 WIB

Selasa, 6 Desember 2011
Olah tubuh, olah vokal, dramatic reading
13.00 WIB

Kamis, 8 Desember 2011
Imajinasi, interpretasi, dramatic reading
08.00 WIB

Sabtu, 10 Desember 2011
Karakter dan emosi
10.00 WIB

Selasa, 13 Desember 2011
Grouping dan movement
13.00 WIB

Kamis, 15 Desember 2011
Bekking dan timming
08.00 WIB

Sabtu, 17 Desember 2011
Reading, gesture, movement
10.00 WIB

Selasa, 20 Desember 2011
Reading, imajinasi
13.00 WIB

Kamis, 22 Desember 2011
Olah vokal, olah tubuh, olah sukma
08.00 WIB

Sabtu, 24 Desember 2011
Grouping dan movement
10.00 WIB

Selasa, 27 Desember 2011
Gesture, movement, crossing
13.00 WIB

Kamis, 29 Desember 2011
Olah tubuh, olah vokal, penyesuaian panggung
08.00 WIB

Sabtu, 31 Desember 2011
Olah tubuh, olah vokal, imajinasi
10.00 WIB

Selasa, 3 Januari 2012
Olah tubuh, olah vokal, penyesuaian panggung
13.00 WIB

Kamis, 5 Januari 2012
Olah vokal, olah tubuh, interpretasi
08.00 WIB

Sabtu, 7 Januari 2012
Penyesuaian panggung
10.00 WIB

Selasa, 10 Januari 2012
Per pemain dan musik
13.00 WIB

Kamis, 12 Januari 2012
Perpemain dan musik
08.00 WIB

Sabtu, 14 Januari 2012
Penyesuaian panggung, perpemain dan musik
10.00 WIB

Selasa, 17 Januari 2012
Per adegan dan musik
13.00 WIB

Kamis, 19 Januari 2012
Peradegan dan musik
08.00 WIB

Sabtu, 21 Januari 2012
Peradegan, emosi permainan
10.00 WIB

Selasa, 24 Januari 2012
Emosi permainan
13.00 WIB

Kamis, 26 Januari 2012
Penyesuaian panggung
08.00 WIB

Sabtu, 28 Januari 2012
Peradegan plus musuk, imajinasi
10.00 WIB

Selasa, 31 Januari 2012
Peradegan plus musik, imajinasi
13.00 WIB

Rabu, 1 Februari 2012
Olah tubuh, olah sukma, penyesuaian panggung
10.00 WIB

Kamis, 2 Februari 2012
Gladi kotor
10.00 WIB

Jumat, 3 Februari 2012
Gladi bersih
10.00 WIB

Sabtu, 4 Februari 2012
Pentas
15.00 WIB