Selasa, 21 Februari 2012

ANALISIS PRAGMATIK DAN TEKSTUR


Analisis Pragmatik dan Tekstur
Oleh :

  1. Tri Rusyandi             (2009 112 079)


2.1 Kenapa Analisis Prakmatik
            Mulai dari zaman Yunani atau Grik lebih kurang 500 tahun SM ahli bahasa telah memulai penelitiannya tentang bahasa  Kaum Sofist umpamanya telah mengadakan penelitian tentang bahasa  melalui pidato-pidato orang-orang yang mahir berbicara, disamping mereka melatih murid-murid menyusun pidato yang baik. Waktu itu orang-orang mempelajari bahasa untuk kepentingan praktis, karena politisi-politisi memerlukan kemahiran berpidato dan berdebat.
            Terkenallah nama-nama Protagoras, Georgian dan Prodicus. Mereka adalah orang-orang pertama yang menemui kalimat. Protagoras orang pertama menyarankan bahasa kisaran (figure of speech) seperti antitetis, analogi, metaphor (Georgean) dan Prodecus yang terkenal karyanya mengenai sinonim (Tampubolon 1978:2).
            Kemudian, munculah Plato, dengan bukunya Gratyhes yang membicarakan tentang hubungan antara kata dan artinya. Timbulah dua pendapat bertentangan . Pertama yang menyatakan bahwa kata mempunyai arti secara arbiter melalui konvensi, dan kedua yang menyatakan bahwa antara kata dengan artinya mempunyai hubungan. Pertentangan ini dikenal dengan nama Physis-Nomos Controversy.
            Di India muncul seorang ahli bahasa yang terkenal dengan penelitian dan penemuannya. Panini, seorang sarjana Hindu telah menyusun lebih kurang 4000 statemen (pemerian), tentang stuktur bahasa Sansekerta dengan prinsip dan gagasan yang masih dipakai sekarang.
            Strukturalisme muncul pada tahun 1930 dan sangat berpengaruh sampai tahun 1950. Leonard Bloomfield adalah nama yang paling terkenal dan berpengaruh di Amerika. Nama lain adalah Frans Boas dan Edwar Sapir. Faham ini berepndapat ucapan itu dapat dianalisis kedalam unit-unit yang kecil  dengan cara menemukan Unsur Bawahan Langsung (Immediate Constituent Analysis).
            Language karangan Leonard Bloomfield membawa udara baru .aliran Struktural yang mencerminkan oleh buku Language ini membatasi penelitianya dalam bidang structural dan yang kongkrit . fonologi sebagian yang paling kongkrit menjadi bagian penyelidikan yang paling utama. Hal penelitian yang kongkrit ini sesuai dengan aliran Behaviorisme dalam psikologi menjadi pokok, sedangkan hal-hal yang tidak structural atau tidak kongkrit –sematik atau pragmatic dianggap diluar batas penelitian linguistic.
            Di Eropah aliran strukturalisme ini dipelopori oleh Ferdinand de Sanssure, seorang sarjana Swiss yang terkenal dengan pembagiannya atas langue la parole dan la laggage. Juga dari pemikirannyalah terbit penelitian sinkronis dan diakronis, hubungan sintakmatik dan paradigmatic.
            Pada tahun 1957 muncul pulalah mazhab Generatif Tranformasi (Generativ Transformational Grammar). Aliran ini menampilkan gagasan generatif dan ini bertentangan dengan aliran distributional. Distributionalisme berkadar eksplisit dalam arti bahwa pemerian-pemeriannya tidak memperbolehkan pandangan dan dugaan ( notion) apapun yang memperlihatkan pengetahuan siap atau pengetahuan sebelumnya.
            Teori Chomsky tentang generative transformational Grammar memaksa ahli-ahli ilmu jiwa (Psykologi) untuk mempertimbangkan kembali keseluruan pendekatan mereka terhadap studi tingkah laku bahasa dan dengan demikian memaklumkan revolusi psiko linguistik.
            Chomsky memajukan gagasan generatif dan ini bertentangan dengan aliran distributionalisme. Namun dia tidak sadar akan kesanggupanya itu. Dia dapat menerbitkan ribuan kalimat berdasarkan sebuah pola kalimat saja.
            Aliran Transformasi ini di samping menganalisis kalimat-kalimat, juga memberikanya dan kemudian memberikan ilustrasi dengan contoh-contoh. Juga menurunkan teori generatif pemeriannya dimajukan dalam seperangkat aturan-aturan untuk membangkitkan kalimat-kalimat baru, sehingga dengan demikian dari sebuah kalimat, mungkin saja diterbitkan ratusan atau ribuan kalimat baru.
            Walaupun demikian penelitian dalam bidang bahasa masih dibatasi pada bidang kompetensi melulu. Kita ketahui bahwa aliran ini membedakan antara kompetensi dan performasi. Kompetensi adalah pengetahuan kita tentang suatu bahasa yang ada dalam pikiran kita, sedangkan performasi adalah implikasi dari pengetahuan kita itu yang berbagai-bagi ragamnya dan berbeda antara  pribadi.
            Aliran ini hanya memperbicarakan kompetensi melulu, telah timbul kesadaran pada pakar-pakar bahasa bahwa grammar harus membicarakan sematik.   
            Beberapa linguis mulai terpengaruh oleh karya filosof-filosof Austin (1962), Searle (1971) dan Grice (1964) terutama di dalam bidang speech act pertuturan maka timbul perkembangan sidalam bidang semantic dan pragmatic dalam lingustik (sumarno, 1990:4)
            Perhatikan terhadap bidang pragmatic ini diresmikan pada tahun 1977 dengan timbulnya sebuah majalah Journal of Pragmatice yang menerbitkan karya-karya tentang pragmatic. Kemudian terbentuk pula sebuah organisasi yaitu  IPRA 9International Pragmatice Association dan Komperensi yang membahas soal sematik yang timbul. Komperensi itu diadakan pada tahun 1987 (agustus 17-22-1987) di Antwerp, Belgia dihadiri oleh tokoh-tokoh besar dalam bidang ilmu bahasa sperti : Manfred Bierwisch, Bernard Chorie , Charles Filmore, I, M. Schlesinger, John Gumperz dan Olinor Ocha.



Barangkali penting untuk mernyatakan bagaimana pendapat verhaar tentang tive-tive teori yang didasarkan atas :

  1. Bentuk aturan (Ekspressi).
  2. Makna tututan.
  3. Situasi.

Oleh sebab itulah maka menurut Verhaar ada empat tipe utama yang terdapat dalam teori linguistic. Yaitu yang hanya mengakui tingkat ekspresi dengan mengesampingkan makna. Yang ketiga yang mengakui tingkat ekspresi dan tingkat situasi dan kedua-duanya menjadi sifat penetu atas tingkat makna. Yang keempat yang memperhitungkan ketiga tingkat yaitu ekspresi, makana dan situasi (lihat Verhaar;1970:14-16)
            Ketiga aliran bahasa yang telah kita sebutkan diatas yaitu Tradisioanalisme, strukturalisme, dan transformasi itu tidak mempertimbangkan situasi sebagai penentu makna karena meraka menggap situasi itu terlalu rumit untuk ditangani dan dengan demikian mengarahkan pandangan teorinya terlalu jauh.
            Seharusnya kalimat ini kalau kita ingin mengetahui arti sebenarnya, harus dianalisis secara pragmatic.
            Arti kalimat itu akan berbeda maknanya bila dikatakan ole: Dokter, ahli ekonomi, tentara pencopet, dan lain-lain.
            Dengan mengetahui konteksnya itu, arti sebenarnya dari kalimat itu akan kita ketahui konteksnya itu, arti sebenarnya dari kalimat itu akan kita ketahui.
            The features of the external world in relation to which and utterance or text has meaning.The notion of context and situation are central in all branches of semantics, since they account for the way that verbal and graphics symbols represent the world around the speaker.(Harmann & strack)
            Segala ciri-ciri dunia eksternal dengan mana satu ujaran atau text mempunyai hubungan makana.Gagasan-gagasan konteks dan situasi ini adalah sentral bagi segala cabang-cabang semantic, karena mereka menerangkan cara simbol-simbol ujaran dan grafik mengatakan dunia sekitar si pembaca. (Chaidar,1965:65)
            R. Firt sebagai pendiri utama atau pertama aliran Firthian ini memasukan konteks situasi dalam penganalisaan bahasa . baginya sebiah kalimat tidaklah akan jelas artinya dengan penganalisisan di luar teks dan konteks.
Menurut aliran Transformasi jelas kalimat ini mempunyai Deep Structure yang tidak sebuah, tetapi banyak yaitu sebanyak makna kalimat itu atau sebanyak maksud penuturnya.
Operesi tidak berarti:
1.      Mengadakan razia
2.      Mengadakan pencurian
3.      Mengadakan serangan
4.      Mendrop bahan-bahan makanan ke pasar
5.      Mencari mangasa
Bagi yang mementingkan situasi sebagai penentu mana cara yang paling tepat adalah menganalisisnya secara pragmatic.
Aliran Firth ini dilanjutkan oleh maksudnya M.A.K. Halliday di Amerika termansyur dengan tata bahasa yang bernama Systematic Gramar dan disebut dengan Neo Firthian.
2.2 Apakah Yang Dinamakan Wacana
            Kesatuan bahasa yang lengkap sebenarnya bukanlah kata atau kalimat, sebagaimana dianggap beberapa kalangan dewasi ini, melainkan wacana atau discourse. Sebeb itu penyelidikan dan diskripsi sintaksis tidak boleh dibatasi pada satuan kalimat saja, tetapi harus dilanjutkan ke kesatuan yang lebih besar yaitu wacana.
            Kesatuan bahasa yang diucapkan atau tertulis panjang atau pendek, itulah yang dinamakan discourse yang sempurna atau yang tidak. Kesatuan bahasa diucapkan atau tertulis panjang atau pendek, itulah yang dinamakan teks atau discaourse. Teks adalah satu kesatuan semantic dan bukan satuan gramatikal. Kesatuan yang bukan lantaran bentuknya (morfem, klausa, kalimat) tetapi kesatuan artinya.
            Bloomfield umpamanya mendefinisikan kalimat sebagai independent from, nor included in any larger (complex) linguistic from. Definisi ini menjadi hambatan untuk mencari wacana, karena kalimat itu tidak bersifat independent tentu tidak ada hubungannya dengan kalimat-kalimat lain. Dengan demikian, tak ada relevansinya untuk menganalisis wacana.
2.3 Apakah Yang Dinamakan Tekstur
            Untuk membicarakan ini baiklah kita berikan dahulu sebuah teks pendek.
Di rumah Upik menangis lagi. Ia sedih sekali. Ia merasa sepi sekali di rumah sendirian. Segalanya tidak dilakukannya dengan semangat lagi. Mandi hanya demi kesehatan. Kalau tidak ia benci melihat air. Begitu makan, nasi terasa kerak. Minum terasa dedak. Layar TV yang dihadapannnya sudah tiga kali dihidupkan atau dimatikannya.  
            Sebagai pemakai bahasa kita tahu bahwa urutan-urutan kalimat itu adalah sebuah teks dan bukan sebuah kalimat yang tidak mempunyai ikatan sesamanya, bukan kalimat-kalimat yang hanya dideretkan begitu saja.
Kalau wacana itu utuh dan kalimat demi kalimat terikat dengan baik maka kalimat itu koheren (bertalian secara logis) dan pengikatnya kita namakan tekstur (benang-benang halus pengikat wacana).(A. Hamid Hasan Lubis; 1991 : 125-35).
            Jadi koheren sebuah wacana tidak hanya ditentukan dengasn mengetahui arti leksikon dan semantiknya saja, juga tidak dengan mengetahui atau denga adanya relasi formal itu tetapi juga ada sesuatu yang baru.

Minggu, 19 Februari 2012

TUGASKU


RANGKUMAN
ANALISIS PRAGMATIK DAN TEKSTUR
OLEH :
1.      Agung Dwi Pratama             (2009 112 076)
2.      Tri Rusyandi                         (2009 112 079)
3.      Novia Astuti                           (2009 112 078)


ANALISIS PRAGMATIK DAN TEKSTUR
Pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996:3),misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkajimakna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yangdikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
Ada beberapa topic pembahasan dalam pragmatic, adalah sebagai berikut :

1.      Teori Tindak-Tutur
Austin, seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30), bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan, dan bahwapernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris.
Contoh: (1) Ada enam kata dalam kalimat ini
              (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono

Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin inimengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuaicontoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuaidengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30).

2.      Prinsip Kerja Sama
Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakatdilandasi oleh sebuah prinsip dasar, yaitu prinsip kerja sama (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi initerwujud dalam empat bidal ( maxim), yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim), memberi informasi sesuai yang diminta; (2) bidal kualitas (quality maxim), menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya; (3) bidal relasi (relation maxim), memberi sumbangan informasi yang relevan; dan (4) bidal cara(manner maxim), menghindari ketidakjelasan pengungkapan, menghindari ketaksaan,mengungkapkan secara singkat, mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11dan Thomas 1995: 63-64).
3.      Implikatur
Grice, seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57), menyebut dua macam implikatur, yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. Implikatur konvensionalmerupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika, ujaran yang mengandungimplikatur jenis ini, seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14), dapat dicontohkandengan penggunaan kata bahkan. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58).
Contoh :  
(1)   Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya
(2)   Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok 

Contoh (1) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan, sedangkan contoh (2) merupakan implikatur konversasional yang bermakna “tidak” dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya?

4.      Teori Relevansi
Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadapempat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Menurut mereka, bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi, dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimanasebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya.

5.      Kesantunan
Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman(1956) (Renkema 2004: 24-25). Menurut Goffman (1967: 5), yang dikutip oleh Jaszczolt(2002: 318), " face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telahdisepakati". Dengan kata lain, face dapat diartikan kehormatan, harga diri (self-esteem),dan citra diri di depan umum ( public self-image).  
Menurut Goffman (1956), seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25), setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses social, yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). Kebutuhan yang pertama disebut positive face, sedangkan yang kedua disebut negative face

Contoh :
1a. Maaf, Pak, boleh tanya? 
1b. Numpang tanya, Mas?

Dalam contoh di atas terlihat jelas, ujaran (1a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya, misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua; sedangkan ujaran (1b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat.

Beberapa fitur yang digunakan untuk pemaknaan kata adalah bentuk, ukuran, gerakan, bunyi, dan tekstur. Tekstur tercipta karena adanya hubungan antar kalimat di dalam teks. Karena hubungan kohesi, unsur dalam wacana dapat diidentifikasikan sesuai dengan hubungannya dengan unsur lain. Dalam penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap wacana sangat memerlukan piranti kohesi dan koherensi untuk membangun tekstur wacana tersebut.

PUISIKU


TIKUS-TIKUS BERDASI
Puisi oleh : Tri Rusyandi (2009 112 079)

Berjalan tegap bak penguasa
Berpakaian rapi bak seorang raja
Memerintah dengan seenaknya
Tanpa peduli nasib rakyat jelata
Apalah jadinya Negeriku ini apabila diperintah oleh tikus-tikus berdasi
Hukum hanyalah sebuah ungkapan yang tiada arti
Hukum hanyalah ibarat pisau tajam yang ujungnya runcing
Yang semakin ke atas semakin tidak berarti
Yang semakin ke atas tidak mau perduli
Tikus-tikus berdasi
Lenyaplah kau dari negeriku ini

CERPEN KU


JENDELA
Cerpen Oleh : Tri Rusyandi (2009 112 079)
Firman, Ecep, dan Rio adalah tiga sekawan yang sudah berteman sejak kecil. Kemanapun mereka pergi mereka selalu bersama, mereka selalu kompak dalam segala hal, sekalipun dalam hal wanita. Kisah tiga orang kampung yang ingin menjelajah dunia. Suatu hari, mereka bertiga mempunyai ide dan ingin sekali pergi ke kota Jakarta. Mereka bertiga ingin mengadu nasib di kota tersebut, walaupun banyak orang bilang Jakarta adalah kota yang kejam. Sekejam-kejamnnya ibu tiri masih kejam kota Jakarta. Setelah mempersiapkan bekal yang cukup merekapun bergegas pergi ke terminal. Setelah kurang lebih satu hari satu malam dalam perjalanan mereka bertiga pun sampai di kota yang di tuju yaitu Jakarta. Nasib sial menimpa mereka bertiga, baru saja menginjakan kaki di kota tersebut. Mereka sudah dipalaki oleh preman dan habis semua bekal yang mereka bawa.
Nasib…..nasib…. ujar Ecep!  Baru saja sampai Jakarta sudah dipalaki preman, gimana nih nasib kita selanjutnya?
Iya nih dasar preman kurang ajar! Rio menyambung pembicaraan Ecep.
Yang sabar??? Mungkin ini awal dari keberhasilan kita di Jakarta, Firman menenangkan.
Huh..!!!! keberhasilan apanya, gimana kita mau cari kontrakan kalau kita tidak punya uang sepeser pun? Ecep terus mengeluh!!!
Iya ni! Ujar Rio, uang ludes, ijazah raib, pakaian amblas, terus gimana kita ini?
Pokoknya sabar? Pasti ada jalan buat kita bertiga, Firman terus menenangkan kedua temannya itu yang sedang mengeluh.
            Mereka bertiga terus berjalan tak tentu arah tujuan sambil meratapi nasib yang begitu pahit mereka rasakan. Seharian mereka berjalan dan perut mereka pun sudah mulai keroncongan dililit rasa lapar yang sudah tidak tertahankan.
Man! Rio memanggil Firman. Perutku lapar banget ni? Iya Man, perutku juga lapar banget Ecep menyambung.
Emangnya Cuma kalian yang merasakan lapar, aku juga sebenarnya lapar banget. Tapi gimana kita mau beli makan? Uang saja tidak punya. Kata Firman kepada kedua temannya itu!
Gimana kalau kita mengamen saja! Kata Ecep
Betul…betul… kita mengamen saja Man? Sahut Rio
Mau mengamen pakai apa? Firman merasa binggung.
Ya nyanyi saja! Kamu dan Rio yang tepuk tangan dan aku yang menyanyi! Kata Ecep.
Ide bagus tu! Rio begitu semangat.
Ok..ok….mari kita mulai di lampu merah sana! Firman setuju.
            Merekapun dengan semangatnya mengamen di lampu merah dengan bergaya dan berjoged seperti bintang bollywod, serta di iring dengan tepuk tangan sebagai alat musiknya. Rupiah demi rupiah mereka kumpulkan untuk membeli makanan. Tak terasa hari sudah petang mereka bertiga beristirahat dan menghitung hasil dari mengamen tadi.
Wah lumayan juga ya hasil dari kita mengamen! Kata Rio
Ide siapa dulu dong? Ecep Markucep.
Iya…iya.. percaya aku, Rio memuji Ecep
Nah.. sekarang kita bisa beli makanan! Ujar Firman
Ok Man! biar aku deh yang beli makanan, dengan semangat Rio menawarkan diri.
            Setelah makanan dibeli mereka pun langsung melahap makanan tersebut dengan lahapnya.
E….  eee..eeee…..????? Ecep sendawa? Aduh.. kenyangnya
Ih! Jorok banget sih kamu cep.
Nggak apa-apalah Man? Yang penting perut sudah kenyang.
Ihhhhhhhh……..!!! Firman merengut.
Kita mau kemana ni Man? Kata Rio.
Sudah kita jalan saja siapa tau kita beruntung nemui tempat untuk tidur.
Ya sudah deh???
            Setelah makan mereka bertiga berjalan tanpa tujuan, mereka terus berjalan dan akhir sampai di depan rumah tua yang sudah tidak berpenghuni.
Man…man? Ada rumah tu! Panggil Ecep kapada Firman.
Tapi serem banget ya tu rumah sambut Rio.
Coba deh kita masuk? Yuk! Kata Firman.
            Berjalan mendekati rumah tua yang sudah lama tidak berpenghuni.
Hi…hi… serem banget ni rumah! Ujar Rio.
Iya serem banget! Sambung Ecep.
Sudah..sudah..! dari pada kita tidur di jalan mendingan kita tidur di sini, sepertinya lebih nyaman! Kata Firman menenangkan.
            Kreeek… terdengar suara pintu rumah yang mereka buka, debu-debu berterbangan kemana-mana.
Wah… luas banget ni rumah? Kata Firman.
Luas sih luas, tapi tetap serem banget Man? Ujar Ecep
Yang penting bisa tidur nyenyak kita mala mini, kata Firman lagi.
            Mereka mulai membuat tempat yang nyaman untuk tidur, debu-debu dibersikan dan dedaunan yang masuk ke dalam rumah di sapu sampai bersih.
Ah…. Akhirnya bisa tidur nyenyak juga!! Ujar Firman.
            Malam semakin larut dan mereka bertiga pun sudah terlelap. Suasana di dalam rumah itu seperti dalam gua yang begitu sunyi dan hening serta hawa sejuk yang seperti bukan rumah kosong yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Detik berganti menit, menit berganti jam tanpa terasa mentari sudah menyingsing di ufuk timur dan ayam pun sudah berkokok sebelum mereka bangun.
Cep..cep.. bangun sudah pagi! Rio membangunkan Ecep.
Firman mana? kata Ecep.
Ntah.. dari aku bangun Firman sudah tidak ada.
Jangan..jangan..! mereka mengucapkan bersamaan.
Man…Firman..man..Firman…! Ecep dan Rio mencari Firman.
Iya ada apa? Sahut Firman.
Ya ampun Man! Kami kira kamu sudah di culik sama genderowo rumah ini. Kata Ecep.
Genderowo mbah mu! Sahut Firman.
Aku tu penasaran sama jendela itu? Coba deh kamu lihat.
Jendela yang mana Man?
Itu.. sebelah kiri dari lemari pakaian yang  besar itu! Kata Firman lagi.
Emang ada apa dengan jendela itu? Sahut Rio.
Jendela itu seperti lain dari yang lain, jendela itu seperti mengeluarkan cahaya yang begitu terang! Jelas Firman.
Ah masak sih man? Sahut Ecep
Aku jadi penasaran nih, ada apa ya dengan jendela itu?
            Mereka bertanya-tanya kepada penduduk setempat tentang sejarah jendela yang berada di rumah tua itu. Dan ternyata rumah tua itu adalah rumah peninggalan dari penjajah Belanda dan jendela yang misterius yang berada di dalam rumah itu adalah jedela dari kamar putri belanda yang cintanya tidak direstui oleh orang tuanya. Dan akhirnya putri Belanda tersebut bunuh diri melalui jendela tersebut dengan mengantungkan diri. Sejak saat itu arwah dari putri Belanda tersebut selalu terlihat di jendela itu dan kadang-kadang seperti cahaya yang begitu terang. Setelah mendengarkan cerita itu Firman, Ecep, dan Rio jadi merinding dan memutuskan untuk tidak menginap di rumah tua itu lagi.
            Mereka lalu bercerita tentang kesusahan mereka merantau di Jakarta kepada narasumber yang telah menceritakan sejarah jendela tersebut. Narasumber itu pun merasa iba kepada Firman Ecep, dan Rio. Dan akhirnya mereka bertiga diperbolehkan tinggal di rumah narasumber tersebut sampai mereka mendapat pekerjaan dan rumah kontrakan sendiri.
            Tiga bulan kemudian setelah kejadian itu, mereka bertiga telah sukses mendapatkan pekerjaan dan rumah kontrakan. Dan kini mereka telah sukses di Jakarta dan menetap di kota metropolitan itu.
SELESAI